Rabu, 24 Desember 2014
Menjadi Lebih Berani dengan Cara Mengatasi Ketakutan
21.16
No comments
pelantui.blogspot.com Rasa takut adalah perasaan yang normal dimiliki oleh semua orang. Pasti semua orang pernah merasakan yang namanya rasa takut. Bahkan orang yang pemberani sekalipun pasti pernah merasakan yang namanya rasa takut. Ketakutan bisa disebabkan karena berbagai macam hal. Misalnya, ketakutan akan gagal, ketakutan akan sesuatu, dan lain-lainnya. Ketakutan terhadap kegagalan biasanya muncul karena seseorang kurang percaya diri. Sehingga ia menjadi minder dan takut kalau keputusannya akan membuat dirinya menjadi gagal. Ketakutan akan sesuatu bisa bermacam-macam. Bisa takut dengan seseorang, takut dengan hewan, takut dengan benda, atau bahkan mungkin takut dengan makhluk halus. Meskipun wajar untuk dirasakan semua orang, rasa takut yang berlebihan bukanlah hal yang baik. Berikut ini ada beberapa cara mengatasi ketakutan yang bisa anda coba.
Cara mengatasi ketakutan yang pertama adalah dengan mengetahui apa sebenarnya yang anda takutkan. Cobalah lacak ketakutan yang anda miliki tersebut. Anda tidak akan bisa menghilangkan rasa takut kalau anda tidak tahu apa penyebab pastinya. Coba cari tahu apa yang membuat anda cemas dan ketakutan serta kenapa hal tersebut bisa membuat anda menjadi takut. Kalau anda sudah mengetahui penyebab pastinya, maka anda akan dengan mudah bisa mengatasi ketakutan yang anda miliki. Percayalah kalau anda bisa mengalahkan rasa takut anda tersebut. Mulailah untuk berani melawan rasa takut anda.
Ketika harus menghadapi sesuatu untuk pertama kalinya, seringkali kita merasa takut dan ragu. Untuk cara mengatasi ketakutan yang satu ini, anda bisa mengambil napas yang panjang selama beberapa kali dan hembuskan secara perlahan-lahan. Dengan begitu anda akan menjadi lebih rileks dan tenang. Selain itu, cobalah untuk membuat diri anda menjadi rileks dengan cara lain. Seperti dengan mendengarkan lagu atau mengobrol dengan orang lain untuk mengalihkan perhatian. Kalau anda takut gagal ketika melakukan hal tersebut, maka sebaiknya anda berlatih dengan giat agar rasa takut akan gagal bisa hilang dan digantikan dengan kepercayan diri.
Hilangkan semua pikiran negatif yang anda miliki. Ini adalah salah satu cara mengatasi ketakutan. Seringkali pikiran negatif lah yang membuat kita menjadi ketakutan. Kalau kita mau melawan rasa takut kita, maka kita harus bisa untuk mengganti semua pikiran negatif dengan pikiran positif. Mulailah berpikir positif. Percayalah bahwa hal yang anda takutkan tersebut bukan apa-apa. Anda lebih hebat dari hal tersebut dan anda bisa melawan rasa takut anda. Kalau anda terus-terusan tenggelam dalam pemikiran-pemikiran negatif, maka akan susah sekali untuk anda mengatasi ketakutan yang anda miliki tersebut. Cobalah untuk melihat sesuatu dari sisi positifnya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti memiliki sisi positifnya. Bergaullah pula dalam lingkungan yang positif agar anda juga ikut tertular.
Cara mengatasi ketakutan yang terakhir adalah dengan jangan mau menjadi budak dari rasa takut anda. Anda bisa memilih untuk melawan rasa takut atau terus-terusan tenggelam dalam ketakutan. Rasa takut ada untuk dihadapi dan dilawan, bukan dihindari. Kalau anda terus-terusan menghindari rasa takut anda, maka anda akan terus-terusan pula dihantui oleh ketakutan. Dengan memiliki keberanian untuk menghadapi rasa takut, maka rasa takut anda akan hilang dengan sendirinya. Anda pun akan menjadi pribadi yang lebih berani dalam berbagai hal. Ingatlah bahwa rasa takut seringkali muncul dari dalam diri anda. Tidak akan yang bisa mengalahkan ketakutan yang anda miliki kecuali diri anda sendiri.
Senin, 01 Desember 2014
“Kenapa Harus Takut?”
06.53
No comments
“Kenapa Harus Takut?”
Apa yang kiranya bakal terjadi jika seseorang berlalu di suatu tempat sementara ada benda keras di hadapannya siap menghantam tubuhnya, sedangkan orang tersebut tak punya keinginan sedikitpun untuk menghindar ? Apa pula yang kiranya bakal terjadi jika seseorang berlalu di suatu tempat sementara di sekitarnya bertebaran benda-benda tajam siap menusuk-nusuk telapak kakinya, sedangkan orang tersebut tak punya keinginan sedikitpun untuk beranjak mundur?
Takut ( خوف ) adalah sebentuk perasaan yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaakaruniakan kepada kita agar dengannya kita menghindar dari segala yang dapat menciderai diri kita. Kita mengelak dari besi tajam yang siap menghujam, berkelit dari kejaran binatang buas yang siap menggigit, berlari dari kobaran api yang siap membakar, surut ke belakang ketika kaki sudah di tepi jurang. Semua itu karena takut.
Tak ada yang mendorong kita untuk berlindung atau menghindar dari bahaya, kecuali rasa takut. Tak ada yang mendorong kita untuk berupaya mencari dan memperoleh keselamatan -di dunia maupun di akhirat- kecuali juga rasa takut. Maka apa jadinya jika ALLAH tidak mengaruniai kita rasa takut? Takut kepada segala marabahaya dan kemarahan, juga takut kepada api neraka dan kemurkaan-NYA. Tentu saja dengan mudahnya kita akan tertimpa malapetaka di dunia dan terjerumus ke dalam perbuatan yang menghantarkan kita kepada kesengsaraan dan penderitaan di akhirat ,seandainya ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa tidak mengaruniai kita rasa takut. Karenanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun mengajari kita untuk berdo’a :
اللهم اقسم لنا من خشيتك ما يحول بيننا وبين معاصيك
(Ya, Tuhan kami. Karuniailah kami rasa takut kepada-MU, yang dengan itu menjauhlah kami dari berma’shiyat kepada MU)
Takut Yang Bersifat Tabi’at
Takutnya kita kepada tikaman senjata, terkaman binatang, jilatan api, terjatuh dari tempat yang tinggi, atau tenggelam ke dalam air merupakan takut yang bersifat tabi’at (khauf thabi’iy). ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa memang telah memperlengkapi kita dengan perasaan ini, sebagaimana juga perasaan benci dan cinta -yang dengan itu manusia benci kepada siapa saja yang berbuat jahat kepadanya dan cinta kepada siapa saja yang berbuat baik kepadanya-. Karena nya takut yang bersifat tabi’at ini tidaklah berdosa, selama tidak menjadi sebab dilalaikannya perintah atau dilanggarnya larangan ALLAH. Namun jika lantaran takut terluka atau cidera kemudian kita enggan berangkat ke medan jihad, maka takut semacam ini menjadi berdosa.
ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah berfirman:
( فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ) (آل عمران: من الآية175)
(…Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-KU jika kalian orang beriman) (Ali Imran: 175)
Maka ketika kita tiba-tiba muncul rasa takut dari hal-hal yang dapat menciderai tubuh, hendaknya kita bertanya ,”Kenapa harus takut. Apakah yang muncul ini semata tabi‘at dan ia tidak menyebabkan dilalaikannya perintah atau dilanggarnya larangan ALLAH. Masih bolehkah aku merasa takut, atau sudahkah rasa takut ini menjerumuskan aku kepada dosa?“
Takut Yang Bersifat Ibadah
Kita tegakkan sholat, shaum di bulan Ramadhan, tunaikan zakat, berhaji kebaitullah, dan amalkan segala bentuk ibadah lainnya seperti zikir, berdo’a, atau i’tikaf tidak lain karena mengharapkan kebaikan -berupa keridhoan ALLAH dan ganjaran-NYA- atau karena menghindari keburukan -berupa kemurkaan ALLAH dan hukuman-NYA-. Manakala seseorang melakukan sebentuk upacara ritual -yang tidaklah ia lakukan itu kecuali didorong oleh rasa takut, yakni takut terhadap bahaya atau petaka yang akan menimpa jika ia tidak melaksanakan upacara tersebut-, maka yang semacam ini semua merupakan takut yang bersifat ibadah (khauf ibadah). Jika takut semacam ini ditujukan kepada atau disebabkan oleh selain ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa, maka takut yang demikian merupakan sejenis kesyirikan. Begitu pula, manakala seseorang menanam ari-ari bayi di depan rumah kemudian memberinya penerangan selama 40 hari, atau menggantung janur kemudian menanam kepala kerbau di saat menegakkan bangunan -tidaklah ia lakukan yang demikian kecuali karena takut tertimpa petaka-, maka takut yang demikian merupakan sejenis kesyirikan.
Bukankah ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa berfirman :
(قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) (الأنعام:162)
(Katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku,hidup, dan matiku hanyalah untuk ALLAH, Rabb semesta alam) (Al An’am: 162)
Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
لعن الله من ذبح لغيرالله
(ALLAH mela’nat orang yang menyembelih bukan karena ALLAH) (HR: Muslim)
Perhatikanlah, betapa seringnya kita lihat manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang dilandasi perasaan takut yang bersifat ibadah (khauf ibadah) ini. Membuat sesajen-sesajen, menyembelih atau menanam sesembelihan, dan menggantung atau memancangkan benda-benda, yang semuanya dilakukan dengan maksud untuk menghindari petaka dan takut jika tidak dilakukan maka petaka itu akan menimpa dirinya. Semua ini termasuk perbuatan menyekutukan ALLAH, karena telah mengalihkan khauf ibadahtersebut kepada selain ALLAH.
Bukankah ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa berfirman:
(وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لا يَخْلُقُونَ شَيْئاً وَهُمْ يُخْلَقُونَ) (النحل:20)
(Mereka yang menyeru selain ALLAH, yaitu yang tak mampu menciptakan sesuatu, bahkan sesuatu yang diciptakan) (An-Nahl:30)
Dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan kita melalui do’anya:
ببسم الله الذي لا يضر مع إسمه شئ في الأرض ولا في السماء و هو السميع البصير
(Dengan Nama ALLAH Yang dengan NYA tak ada satu pun yang dapat mencelakakan, di langit maupun di bumi. Dan IA Maha Mendengar dan Maha mengetahui)
Maka ketika hati ini terdorong -disebabkan bisikan syaithan atau adat kebiasaan- untuk meyiapkan sesajen, menanam sesembelihan,atau menggantung penangkal bala’, hendaknya kita bertanya, “Kenapa harus takut. Apakah layak sesuatu yang tak dapat memberikan man’faat dan mendatangkan mudharat menerima rasa takutku. Kenapa sesuatu yang tak dapat menciptakan dan tak mampu -bahkan menyelamatkan dirinya sendiri- harus dimuliakan melalui rasa takutku?“
Takut Yang Tersembunyi
Takut yang tersembunyi (khauf sirry) adalah takut yang sesungguhnya tidak beralasan dan tidak pada tempatnya kita merasa takut. Dan tidaklah timbul rasa takut semacam ini kecuali karena telah tertanam keyakinan bahwa sesuatu yang ditakutinya itu dapat mendatangkan mudharat atau petaka baginya. Maka takut yang demikian ini (sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -rahimahullahu ta’alaa- di dalam Syarah Tsalatsatul Ushul) merupakan jenis kesyirikan.
Perhatikanlah, wahai kaum muslimin. Betapa upaya untuk menanamkan bibit kesyirikan kepada umat melalui jalan ini begitu nampak. Para produser film dan sutradaranya -atas nama imaginasi dan kreativitas seni- menjadi kader dan pelanjut para pendongeng primitif, ramai-ramai menebarkan khauf sirryini. Entah dari mana atau siapa yang mengilhami mereka untuk menceritakan kejadian-kejadian yang dapat menimbulkan rasa takut manusia kepada syaithan atau jin itu.
Akhirnya sebelum rasa takut kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa tertanam pada anak-anak kita -bahkan orang dewasa sekalipun- rasa takut mereka kepada syaithan sudah tertanam lebih dahulu. Kalau dikatakan kepada mereka, “Jangan lakukan ini atau itu, nanti dimurkai ALLAH!” Kita dapati mereka melanggarnya karena tidak takut sama sekali terhadap kemurkaan ALLAH. Akan tetapi, kalau dikatakan kepada mereka,”Jangan lakukan ini atau itu, nanti jin atau syaithan penunggu tempat ini akan marah!” Kita dapati mereka segera menta’ati larangan atau perintah itu karena takut mendapat petaka. Kalau dinasihatkan kepada mereka,”Jangan bergaul dengan bajingan itu, karena dia sangat berbahaya dan tega mencelakakan dirimu!” Kita dapati mereka tetap bergaul akrab dengan bajingan tersebut dan tidak takut sama sekali bajingan tersebut akan menipu dan memperdayakannya. Namun jika dikatakan kepada mereka, “Tolong temani sebentar mayat (bajingan) temanmu ini di ruang mayat sendirian sementara keluarganya belum datang melayat!” Kita dapati mereka mencari teman lain karena takut menunggui mayat tersebut sendirian.
Manakala anak-anak kita lebih takut kepada ceritra-ceritra takhayul temannya ketimbang amarah dan pukulan orang tuanya, atau dia lebih berani berkelahi -dengan lawan yang lebih besar sekalipun- ketimbang harus pergi sendirian ke kakus yang terletak jauh di belakang rumah, sesungguhnya anak tersebut telah mengidap khauf sirry dan bibit-bibit kesyirikan. Karena tidaklah khauf sirry itu muncul kecuali karena ada keyakinan bahwa yang ditakuti itu memang layak untuk ditakuti, sebagaimana seharusnya perasaan tersebut ditujukan semata kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa.
Maka jika muncul perasaan takut ketika kita harus meliwati daerah pekuburan di malam hari, sehabis mendengar ceritra-ceritra takhayul dan khurafat, atau karena mendengar longlongan anjing di tengah malam, hendaklah kita bertanya, “Kenapa harus takut. Apakah sesuatu yang tak dapat menciptakan -walau sebiji kacang- dapat mencelakakan dan mendatangkan petaka bagiku. Kenapa takut yang telah ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa karuniakan kepada ku -demi keselamatanku- harus aku tujukan kepada yang tidak dapat menyelamatkan diriku?“
Kenapa Harus Takut ?
Ya, kenapa harus takut itu artinya: Apakah takutnya kita kepada sesuatu hanya bersifat tabi’at? Apakah takut yang bersifat tabi’at itu telah menyebabkan kita melalaikan perintah dan melanggar larangan ALLAHSubhaanahu wa ta’alla ? Apakah yang mendorong kita melakukan ritus-ritus tertentu sedangkan hal tersebut tidak pernah diperintahkan ALLAHSubhaanahu wa ta’alaa ? Mengapa sesuatu yang tak mampu mendatangkan petaka itu dapat menggetarkan hati kita ? Dan terakhir, kenapa kita harus takut hanya kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa ?
Ya, takut adalah sebentuk perasaan yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaakaruniakan justru demi keselamatan hamba-NYA di dunia maupun di akhirat. Yang dengannya seorang hamba menjauh dari segala yang dapat mencelakakan dirinya. Maka bagaimana mungkin perasaan yang IA karuniakan kepada kita -dengan rahmat-NYA- itu kemudian kita persembahkan kepada selain DIA. Sebagaimana kita diciptakan untuk beribadah kepada NYA, maka bagaimana hukumnya jika kemudian kita beribadah kepada selain NYA.
sumber:http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/5jendela-risalah/kenapa-harus-takut/
diposkan kembali OLEH: pelantui.blogspot.com
Minggu, 30 November 2014
My Life Story: mencoret mobil kesayangan ayah
08.35
No comments
My Life Story: mencoret mobil kesayangan ayah: "Mencoret Mobil Kesayangan Ayah" http://pelantui.blogspot.com/ Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota...
mencoret mobil kesayangan ayah
08.17
No comments
"Mencoret Mobil Kesayangan Ayah"
http://pelantui.blogspot.com/Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
sumber:http://dibebaskan.blogspot.com/
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
sumber:http://dibebaskan.blogspot.com/
Sabtu, 29 November 2014
maafkan abang sayang ..!
12.11
No comments
“Maafkan abang, sayang.”
Remuk hati seorang isteri dikala suami yang selama 10 tahun menjadi cinta agung dalam hidupnya akhirnya mengakui akan hubungan terlarang yang kini menjadi alunan hidupnya. Sungguh tidak kuduga… inikah balasan yang kuterima atas setiap bibit cintaku padamu suami? Perlahan-lahan kuusap airmata yang mengalir. Kehangatan air mataku meneyelinap ke dalam diri.
Sayang kasihmu abang sudah tidak sehangat ini. Perlahan suamiku melangkah keluar dari kamar yang menjadi saksi cinta kami selama sepuluh tahun ini. Kurenung langkahnya yang perlahan. Tidak sedikit pun abang menoleh kembali. Seolah-olah di dalam hati cinta kita sudah tidak
bersisa lagi.
Malam yang sunyi ini menjadi saksi akan hancurnya hati seorang wanita yang bergelar isteri. Kadangkala aku sendiri tidak yakin dengan dirimu abang. Hanya kerana asmara yang singkat, abang lupa akan cinta yang sedekad waktu ini. Abang lupa di gerbang perkahwinan, susah senang kita bersama. Di saat adik-adik abang memerlukan wang untuk perbelanjaan sekolah, kita suami isteri menguis saki baki simpanan yang ada untuk membantu adik abang. Di saat-saat abang kemalangan yang nyaris meragut nyawa , siapa yang setia menemanimu siang dan malam? Ingatkah abang akan janjimu ketika abang terselamat dari maut? Ketika Abang mengenggam jari Sayang dan Abang bisikan betapa abang bersyukur kerana diberi peluang kedua untuk bersama sayang.
Betapa abang rasa hidup abang lebih lengkap kini kerana baru ketika ini abang tahu nilai kasih sayang yang abang takut abang sudah tidak mampu kecapi lagi. Selama 2 bulan, abang berulang-alik ke hospital untuk rawatan lanjutan. Selama itu , Sayang rasa bertuah kerana dapat berbakti padamu, Abang. Namun semuanya sudah tidak bermakna lagi buatmu.
Sayang ikhlas membantu mu, Abang. Selama ini sayang ikhlas menjaga makan minummu. Sayang jujur dalam membina jambatan kasih kita. Mungkin ada waktunya, sayang terleka dalam melaksana tanggungjawab isteri. Sayang sedar ada masanya sayang sendiri melukai hatimu. Dan Sayang hargai toleransimu. Sesunguhnya toleransi dan kasih sayang abang adalah 2 perkaran yang sentiasa membuatkan hidup Sayang seunik-unik kehiudpan. Sayang bahagia. Dan kerana itu sayang tak meragui Abang. Tidak dalam secubit waktu pun. Tapi Sayang silap abang. Rupanya kasihmu layu juga.
Sekali lagi air mataku gugur. Kurenung surat permohonan abang untuk menikah lagi. Kutatap perlahan-lahan permohonan yang masih kemas ku gengam. Memang dalam hidup seorang isteri seperti Sayang, poligami adalah seperkara sayang takuti. Sayang takut bila isteri abang dua..kasih abang satu. Dan Sayang takut jika kasih yang satu itu bukan milik Sayang lagi. Abang malam ini abang mengaku akan hubungan yang selama ini tidak sayang ragui. Sayang ikhlas dengan bantuan abang..Sayang bangga kerana punya suami sepertimu abang. Suami yang bukan sahaja penyayang malah seoarng lelaki yang mudah simpati pada orang yang memerlukan. Dan dikala Farah yang waktu itu datang menangis-nangis kerana sudah tidak betah hidup terseksa bersama suaminya, kita bantu Farah dan anak-anaknya.
Selama 3 bulan, kita suami isteri membantu Farah kenalan Sayang di Universiti dulu. Kita sediakan keselesaan untuk Farah anak-beranak di rumah sewa kita. Kita bantu Farah dengan menempatkan Farah di tempat Abang makan gaji. Dan Anak-anak Farah Sayang jaga di waktu siang. Mungkin kerana ketidakhadiaran cahaya mata dalam kamus hidup kita, Sayang menerima anak-anak Farah seperti anak sendiri. Selama 3 bulan itu Sayang bahagia kerana pertama kali dalam hidup sayang, Sayang dapat menjalani kehidupan seorang ibu. Di waktu Farah rasa terancam dengan ugutan suaminya, Sayang bangga abang berani melindungi Farah dan anak-anak. Betapa di kala itu, abang bagaikan wira dahulukala. Di saat Farah merasai hidupnya musnah dirobek suaminya, Sayang beri Farah harapan. Sayang tiupkan semangat. Segala-galanya demi nilai satu persahabatan. Tapi cermin persahabatan itu remuk berderai. Malah hati seorang wanita ini lebih terluka bila wanita yang menjadi dalang cinta kami adalah Farah.
Sampai hatimu Farah, madu yang kami beri tapi racun yang kau balas.. Rupanya kasih sayang yang kucurahkan pada anak-anakmu kau balas dengan belaian manja pada suamiku. Apa dosaku padamu Farah? Kata orang bertepuk sebelah tangan tak akan berbunyi. Mungkin salahnya datang dari suamiku tapi tak bolehkah kau fikirkan akan nilai persahabatan kita? Dan kerana persahabatan itu tak mampukah kau menolak suamiku jauh dari hidupmu? Tidak pernaha dalam sekelumit aku waktu, kupinta darimu untuk melayan suamiku sebegitu rupa. Tidak Farah! Tidak. Tidakkah kau sedar kau masih isteri orang. Proses ceraimu masih belum sampai jauh talak. Kau masih isteri orang Farah.
Perlahan-lahan aku bangkit dari katil. Segera diriku yang kusut itu diperkemaskan. Tiada apa yang mampu kuucapakan lagi. Kukutip permohonan suamiku dari atas katil. Perlahan aku melangkah keluar dari bilikku. Di kala itu kulihat suami sedang leka dibuai perasaan. Di atas Sofa empuk itu, Suamiku cuba memikirkan keserabutan hidup. Kuhampiri suamiku. Di kala itu pandangan kami bertemu. Jika semalam, pasti ada gelora asmara cinta bila pandangan kita bertaut tapi malam ini…….pertama kali sayang rasakan pandangan kita kosong. Keruh sungguh wajahmu abang. Lembut Suamiku menarikku kesisi.
“Abang… Sayang cuma mahu tahu seperkara darimu abang. Berterus-teranglah walaupun ianya paling pahit untuk diterima. Apa yang abang cari pada Farah? Apa yang membuatkan Farah lebih bernilai dalam hidup Abang sekarang?”.
Sakit hati ini bila kata-kata itu meluncur dari bibirku. Tidak dapat ku bayangkan kekecewaan yang melanda. Perlahan kuamati suamiku. Abang walaupun hakikatnya kita belum bermadu, Sayang sudah merasakan peritnya kehilanganmu.
“Abang berdosa padamu, Sayang. Dan Abang tak salahkan Sayang kerana membenci Abang. Cuma Abang rasa Farah perlu dilindungi. Dan Abang simpati pada Farah yang tak memiliki bahagia.” Dalam saat-saat sebegini Farah masih dihatimu.
“Tapi kenapa sampai ada keterlanjuran berlaku?”
“Abang lelaki punya keinginan .. punya kemahuan…” Walaupun payah, Abang masih memenangi dirimu. Abang.. Abang.. Aku mengeleng sendirian. Sayang semakin tidak mengenali dirimu kini. Air mata sudah makin murah untuk mengalir. Tapi Sayang akan kekal kuat. Sayang masih kekal kuat seperti dahulu.
“Bagaimana halal dan haram Abang?” Aku masih cuba berlaku tenang. Aku kalau boleh mahu Suamiku sedar keterlanjuran yang berlaku. Suamiku terdiam. Dia semakin resah.
“Abang dah bertaubat , Sayang. Dan kerana itu Abang mahu bertanggungjawab atas keterlanjuran kami.” Mudah sungguh Abang membina alasan. Indah sungguh takrifan bertanggungjawab dan taubatmu. Aku tersenyum sendirian.
“Abang masih belum jawab soalan Sayang? Apa yang membuatkan Farah lebih bernilai dalam hidup Abang sekarang?” Antara dengar dengan tidak aku cuba mendapatkan kepastian.
“Farah.. Farah..” Suamiku resah. Kata-katanya mati. Ada nada-nada ktidakpastian pada raut wajahnya. Lembut kugenggam tangan suamiku.
“Abang Sayang cuma mahukan kejujuranmu. .” Dengan isyarat mata aku cuba memberi keberanian pada suamiku untuk berlaku jujur denganku.
“Sayang.. Farah mampu menjadiakan Abang…AYAH. .” Dan aku cuma tersenyum mendengar alasan suamiku. Seperti yang telah kuduga. Luruh hatiku mendengar alasannya. Dulu janjimu lain Abang tapi kini…
“Dulu , Sayang izinkan abang menikah lain tapi Abang menolak. Abang kata biar susah senang kita sehidup semati..hanya ajal memisahkan kita. Tak akan ada dua atau tiga dalam diri Abang..”
“Sayang… itu dulu.. Abang juga mahukan anak. Hidup abang sepi Sayang tanpa Anak. Abang tahu sayang tak mampu.. Tapi Abang berkebolehan mendapatkan anak.” Aku semakin sakit mendengarnya. Abang hina kecacatan hidup ini. Abang ungkit kekurangan diri ini.
“Kalau anak yang abang mahu, Nikahlah Farah. Gauli farah setelah Farah Halal buatmu.” Segera aku bangkit dari duduku. Dengan kekuatan yang masih berbaki, ku pandang suamiku sebagai pandangan terakhir. Hati ku sudah terluka abang.
Sayang boleh terima kalau abang pilih Farah sebagi madu Sayang tapi.. yang tak mampu Sayang terima ialah.. layanan haram Farah buat Abang dikala Sayang sedang menjaga anak-anaknya. Hancur hati ini Abang. Biarlah kisah cinta kita terkubur disini. Kuhulur salam terakhir buat suamiku. Kukucup suamiku dan kubisikkan padanya….
“Tapi Abang Sayang tidak mampu membuang hubungan haram abang dari kaca mata Sayang. Bebaskan Sayang…” Tersentak suamiku.
“Nanti Sayang…” Suamiku menarikku hampir padanya.
“Abang perlu bertanggungjawab terhadap Farah. Berikanlah Farah kebahagian yang ingin Abang berikan. Jadilah Abang Ayah sepertimana yang Abang impikan. Cuma.. Sayang tak mampu berkongsi kasih lebih-lebih lagi bila Sayang fikirkan hanya kerana 3 bulan perkenalan.. Abang lupakan Sayang. Hanya kerana 3 bulan pertemuan Abang musnahkan kepercayaan sayang dan Hanya kerana 3 bulan simpati Abang buang halal haram satu hubungan. Dan Sayang tak mahu anak-anak Sayang ada ayah seperti itu.. Maafkan Sayang,Abang. “
Perlahan-lahan aku melangkah pergi jauh dari suamiku. Tiada tolehan kedua buatnya. Tiada lagi simpati buatnya. Yang ada cuma ….janin berusia 2 bulan yang menjadi lambang kasih kita. Itulah kebesaran tuhan Abang.
“Maafkan abang, sayang.”
Sayang kasihmu abang sudah tidak sehangat ini. Perlahan suamiku melangkah keluar dari kamar yang menjadi saksi cinta kami selama sepuluh tahun ini. Kurenung langkahnya yang perlahan. Tidak sedikit pun abang menoleh kembali. Seolah-olah di dalam hati cinta kita sudah tidak
bersisa lagi.
Malam yang sunyi ini menjadi saksi akan hancurnya hati seorang wanita yang bergelar isteri. Kadangkala aku sendiri tidak yakin dengan dirimu abang. Hanya kerana asmara yang singkat, abang lupa akan cinta yang sedekad waktu ini. Abang lupa di gerbang perkahwinan, susah senang kita bersama. Di saat adik-adik abang memerlukan wang untuk perbelanjaan sekolah, kita suami isteri menguis saki baki simpanan yang ada untuk membantu adik abang. Di saat-saat abang kemalangan yang nyaris meragut nyawa , siapa yang setia menemanimu siang dan malam? Ingatkah abang akan janjimu ketika abang terselamat dari maut? Ketika Abang mengenggam jari Sayang dan Abang bisikan betapa abang bersyukur kerana diberi peluang kedua untuk bersama sayang.
Betapa abang rasa hidup abang lebih lengkap kini kerana baru ketika ini abang tahu nilai kasih sayang yang abang takut abang sudah tidak mampu kecapi lagi. Selama 2 bulan, abang berulang-alik ke hospital untuk rawatan lanjutan. Selama itu , Sayang rasa bertuah kerana dapat berbakti padamu, Abang. Namun semuanya sudah tidak bermakna lagi buatmu.
Sayang ikhlas membantu mu, Abang. Selama ini sayang ikhlas menjaga makan minummu. Sayang jujur dalam membina jambatan kasih kita. Mungkin ada waktunya, sayang terleka dalam melaksana tanggungjawab isteri. Sayang sedar ada masanya sayang sendiri melukai hatimu. Dan Sayang hargai toleransimu. Sesunguhnya toleransi dan kasih sayang abang adalah 2 perkaran yang sentiasa membuatkan hidup Sayang seunik-unik kehiudpan. Sayang bahagia. Dan kerana itu sayang tak meragui Abang. Tidak dalam secubit waktu pun. Tapi Sayang silap abang. Rupanya kasihmu layu juga.
Sekali lagi air mataku gugur. Kurenung surat permohonan abang untuk menikah lagi. Kutatap perlahan-lahan permohonan yang masih kemas ku gengam. Memang dalam hidup seorang isteri seperti Sayang, poligami adalah seperkara sayang takuti. Sayang takut bila isteri abang dua..kasih abang satu. Dan Sayang takut jika kasih yang satu itu bukan milik Sayang lagi. Abang malam ini abang mengaku akan hubungan yang selama ini tidak sayang ragui. Sayang ikhlas dengan bantuan abang..Sayang bangga kerana punya suami sepertimu abang. Suami yang bukan sahaja penyayang malah seoarng lelaki yang mudah simpati pada orang yang memerlukan. Dan dikala Farah yang waktu itu datang menangis-nangis kerana sudah tidak betah hidup terseksa bersama suaminya, kita bantu Farah dan anak-anaknya.
Selama 3 bulan, kita suami isteri membantu Farah kenalan Sayang di Universiti dulu. Kita sediakan keselesaan untuk Farah anak-beranak di rumah sewa kita. Kita bantu Farah dengan menempatkan Farah di tempat Abang makan gaji. Dan Anak-anak Farah Sayang jaga di waktu siang. Mungkin kerana ketidakhadiaran cahaya mata dalam kamus hidup kita, Sayang menerima anak-anak Farah seperti anak sendiri. Selama 3 bulan itu Sayang bahagia kerana pertama kali dalam hidup sayang, Sayang dapat menjalani kehidupan seorang ibu. Di waktu Farah rasa terancam dengan ugutan suaminya, Sayang bangga abang berani melindungi Farah dan anak-anak. Betapa di kala itu, abang bagaikan wira dahulukala. Di saat Farah merasai hidupnya musnah dirobek suaminya, Sayang beri Farah harapan. Sayang tiupkan semangat. Segala-galanya demi nilai satu persahabatan. Tapi cermin persahabatan itu remuk berderai. Malah hati seorang wanita ini lebih terluka bila wanita yang menjadi dalang cinta kami adalah Farah.
Sampai hatimu Farah, madu yang kami beri tapi racun yang kau balas.. Rupanya kasih sayang yang kucurahkan pada anak-anakmu kau balas dengan belaian manja pada suamiku. Apa dosaku padamu Farah? Kata orang bertepuk sebelah tangan tak akan berbunyi. Mungkin salahnya datang dari suamiku tapi tak bolehkah kau fikirkan akan nilai persahabatan kita? Dan kerana persahabatan itu tak mampukah kau menolak suamiku jauh dari hidupmu? Tidak pernaha dalam sekelumit aku waktu, kupinta darimu untuk melayan suamiku sebegitu rupa. Tidak Farah! Tidak. Tidakkah kau sedar kau masih isteri orang. Proses ceraimu masih belum sampai jauh talak. Kau masih isteri orang Farah.
Perlahan-lahan aku bangkit dari katil. Segera diriku yang kusut itu diperkemaskan. Tiada apa yang mampu kuucapakan lagi. Kukutip permohonan suamiku dari atas katil. Perlahan aku melangkah keluar dari bilikku. Di kala itu kulihat suami sedang leka dibuai perasaan. Di atas Sofa empuk itu, Suamiku cuba memikirkan keserabutan hidup. Kuhampiri suamiku. Di kala itu pandangan kami bertemu. Jika semalam, pasti ada gelora asmara cinta bila pandangan kita bertaut tapi malam ini…….pertama kali sayang rasakan pandangan kita kosong. Keruh sungguh wajahmu abang. Lembut Suamiku menarikku kesisi.
“Abang… Sayang cuma mahu tahu seperkara darimu abang. Berterus-teranglah walaupun ianya paling pahit untuk diterima. Apa yang abang cari pada Farah? Apa yang membuatkan Farah lebih bernilai dalam hidup Abang sekarang?”.
Sakit hati ini bila kata-kata itu meluncur dari bibirku. Tidak dapat ku bayangkan kekecewaan yang melanda. Perlahan kuamati suamiku. Abang walaupun hakikatnya kita belum bermadu, Sayang sudah merasakan peritnya kehilanganmu.
“Abang berdosa padamu, Sayang. Dan Abang tak salahkan Sayang kerana membenci Abang. Cuma Abang rasa Farah perlu dilindungi. Dan Abang simpati pada Farah yang tak memiliki bahagia.” Dalam saat-saat sebegini Farah masih dihatimu.
“Tapi kenapa sampai ada keterlanjuran berlaku?”
“Abang lelaki punya keinginan .. punya kemahuan…” Walaupun payah, Abang masih memenangi dirimu. Abang.. Abang.. Aku mengeleng sendirian. Sayang semakin tidak mengenali dirimu kini. Air mata sudah makin murah untuk mengalir. Tapi Sayang akan kekal kuat. Sayang masih kekal kuat seperti dahulu.
“Bagaimana halal dan haram Abang?” Aku masih cuba berlaku tenang. Aku kalau boleh mahu Suamiku sedar keterlanjuran yang berlaku. Suamiku terdiam. Dia semakin resah.
“Abang dah bertaubat , Sayang. Dan kerana itu Abang mahu bertanggungjawab atas keterlanjuran kami.” Mudah sungguh Abang membina alasan. Indah sungguh takrifan bertanggungjawab dan taubatmu. Aku tersenyum sendirian.
“Abang masih belum jawab soalan Sayang? Apa yang membuatkan Farah lebih bernilai dalam hidup Abang sekarang?” Antara dengar dengan tidak aku cuba mendapatkan kepastian.
“Farah.. Farah..” Suamiku resah. Kata-katanya mati. Ada nada-nada ktidakpastian pada raut wajahnya. Lembut kugenggam tangan suamiku.
“Abang Sayang cuma mahukan kejujuranmu. .” Dengan isyarat mata aku cuba memberi keberanian pada suamiku untuk berlaku jujur denganku.
“Sayang.. Farah mampu menjadiakan Abang…AYAH. .” Dan aku cuma tersenyum mendengar alasan suamiku. Seperti yang telah kuduga. Luruh hatiku mendengar alasannya. Dulu janjimu lain Abang tapi kini…
“Dulu , Sayang izinkan abang menikah lain tapi Abang menolak. Abang kata biar susah senang kita sehidup semati..hanya ajal memisahkan kita. Tak akan ada dua atau tiga dalam diri Abang..”
“Sayang… itu dulu.. Abang juga mahukan anak. Hidup abang sepi Sayang tanpa Anak. Abang tahu sayang tak mampu.. Tapi Abang berkebolehan mendapatkan anak.” Aku semakin sakit mendengarnya. Abang hina kecacatan hidup ini. Abang ungkit kekurangan diri ini.
“Kalau anak yang abang mahu, Nikahlah Farah. Gauli farah setelah Farah Halal buatmu.” Segera aku bangkit dari duduku. Dengan kekuatan yang masih berbaki, ku pandang suamiku sebagai pandangan terakhir. Hati ku sudah terluka abang.
Sayang boleh terima kalau abang pilih Farah sebagi madu Sayang tapi.. yang tak mampu Sayang terima ialah.. layanan haram Farah buat Abang dikala Sayang sedang menjaga anak-anaknya. Hancur hati ini Abang. Biarlah kisah cinta kita terkubur disini. Kuhulur salam terakhir buat suamiku. Kukucup suamiku dan kubisikkan padanya….
“Tapi Abang Sayang tidak mampu membuang hubungan haram abang dari kaca mata Sayang. Bebaskan Sayang…” Tersentak suamiku.
“Nanti Sayang…” Suamiku menarikku hampir padanya.
“Abang perlu bertanggungjawab terhadap Farah. Berikanlah Farah kebahagian yang ingin Abang berikan. Jadilah Abang Ayah sepertimana yang Abang impikan. Cuma.. Sayang tak mampu berkongsi kasih lebih-lebih lagi bila Sayang fikirkan hanya kerana 3 bulan perkenalan.. Abang lupakan Sayang. Hanya kerana 3 bulan pertemuan Abang musnahkan kepercayaan sayang dan Hanya kerana 3 bulan simpati Abang buang halal haram satu hubungan. Dan Sayang tak mahu anak-anak Sayang ada ayah seperti itu.. Maafkan Sayang,Abang. “
Perlahan-lahan aku melangkah pergi jauh dari suamiku. Tiada tolehan kedua buatnya. Tiada lagi simpati buatnya. Yang ada cuma ….janin berusia 2 bulan yang menjadi lambang kasih kita. Itulah kebesaran tuhan Abang.
Senin, 03 November 2014
Cerita Kita
17.10
No comments
Cerita Kita
Tidak terbayang, apa yang dirasakan ketika mendapati kekasih dalam keadaan tanpa busana dan ada perempuan lain yang juga tanpa busana di ranjangnya? Dengan langkah gontai, Ine, 26, seorang karyawan swasta meninggalkan kekasihnya yang ia dapati tanpa sehelai benangpun bersama perempuan lain di kamarnya. Kisah cinta mereka harus berakhir setelah 7 bulan bersama.
Mungkin terdengar seperti cerita-cerita sinetron di televisi, tapi sayangnya, “drama” ini memang benar-benar terjadi pada kehidupan saya. Awalnya ketika saya bertemu dengan gerombolan teman kecil, teman sepermainan ketika masih duduk di bangku SMP dulu. Ternyata, di antara anak lelaki masa lalu yang biasa berlarian bersama di sekolah, ada dia yang bisa mencuri perhatian dan hati saya. Salim, begitu ia biasa ia dipanggil. Tampilannya yang selalu terlihat dewasa ditambah kacamata melekat di wajah, membuat sosok lelaki yang ketika masa kecil tidak pernah saya perhatikan tiba-tiba terlihat sangat berkharisma di hadapan saya.
Gayung bersambut, ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Tidak lama setelah pertemuan kami saat itu, kami pun menjalin hubungan cinta. Layaknya orang yang baru pacaran, semua terasa indah. Apapun ingin dilakukan bersama dengan si dia. Membangun mimpi indah di masa depan pun tidak lepas dari bahan pembicaraan kami berdua. Ya, hanya ada aku dan dia di dunia ini. Hanya ada kami. Kegiatan saya sebagai pekerja kantoran dan Salim sebagai pengusaha kecil sama sekali tidak mengganggu hubungan kami. Kami saling dukung dalam hal moril dan meteril. Ketika usaha Salam nyaris bangkrut, saya bersyukur bisa berada di sampingnya dan membantunya kembali bangkit lewat pinjaman dana yang saya berikan. Jangankan hanya uang, demi cinta, apapun saya berikan. Ya, alasan klise perempuan memang, demi cinta. Hingga, saya pun berbuat terlalu jauh dengannya. Kami pun pernah melakukan hubungan suami-istri.
Hubungan kami berjalan mulus dan baik-baik saja hingga saat itu terjadi. Ketika itu, dia memberikan kabar pada saya bahwa ia akan pindah kosan dan tidak bisa menemui saya. Ya, Salim memang anak kosan. Sama sekali tidak menaruh curiga pada perkataannya di telepon pada saat itu, namun entah kenapa perasaan saya tiba-tiba tidak enak. Ada “bisikan” kecil yang menyuruh saya untuk mengunjungi Salim di kosannya. Akhirnya, dengan mengendarai motor, saya melaju menuju kosannya. Begitu tiba, saya mendapati pintu kamarnya digerendel dari luar. Namun, saya melihat jendelanya terbuka. Lagi-lagi tanpa curiga, saya pun memasukkan tangan melalui jendela dan menyibakkan gorden kamarnya.
Gorden pun seperti ditahan. Tidak lama, kepala Salim muncul di jendela. Dengan sekuat tenaga, saya kibas gorden hingga akhirnya saya mendapatkan pemandangan yang membuat saya terasa seperti dikubur hidup-hidup, sesak, marah, dan ingin berontak. Saya melihat pacar saya dalam keadaan tanpa busana dan seorang perempuan yang tengah berbaring juga dalam keadaan tanpa busana di ranjangngya. Di tempat yang sama ketika kami berbagi kasih dulu, kini di depan mata saya ada perempuan lain terlentang tanpa sehelai benangpun.
Dengan suara keras, saya memaksanya untuk membuka pintu. Tidak bisa ditahan lagi, semua kata-kata kotor dan mengungkit masa lalu, begitu saja terlontar dari mulut saya. Sambil mengeluarkan makian, saya menyaksikan mereka mengenakan pakaian setelah bercumbu. Sakit dan marah jadi satu menguasai saya. Sempat keluar pembelaan dari mulut Salim pada saat itu, tapi kemudian mental karena kejadian ini memang bentuk pengkhianatannya pada cinta kami. Helm yang saya pegang pun akhirnya melayang ke kepalanya. Walaupun telah memukulnya dengan helm di tangan, rasanya sakitnya tidak bisa mengalahkan rasa sakit dan sesak yang saya rasakan. Saya puas melampiaskan amarah pada mereka tanpa ada perlawanan. Ya, mereka pasrah dan menerima semua kemarahan saya.
Semua seolah sudah Salim rencanakan dengan rapi, dengan alasan pindah kos, menggerendel pintu dari luar, kemudian puas melampiaskan nafsu dengan perempuan lain. Tapi, ternyata insting perempuan yang kuat mendorong saya menghampirinya hingga akhirnya terbukalah kebusukannya. Hubungan kami yang baru berusia 7 bulan pun berakhir dengan menyakitkan malam itu. Dengan langkah gontai, saya meninggalkan mereka yang masih diam terpaku. Syok dengan pemandangan yang saya saksikan, konsentrasi saya buyar hingga kecelakaan pun tak bisa dihindari. Saya terjatuh dari motor usai peristiwa itu.
Trauma itu masih tersisa!
Hampir sekitar 1.5 tahun melajang usai peristiwa tersebut, Ine mengaku memang masih trauma untuk menjalin hubungan dengan lelaki lain. Namun Ine mengatakan, ia sudah mulai belajar membuka hati dan kesempatan jika ada lelaki lain yang coba masuk dalam hidupnya. Mungkin bukan hanya Ine yang mengalami hal ini. Tidak sedikit perempuan yang rela melakukan apa saja atas nama ‘cinta’, namun harus berakhir dengan tragis. Kisah cinta yang harus berakhir karena perselingkuhan rasanya lebih tragis dari kisah cinta yang berakhir karena kematian.
“Perselingkuhan pasti akan menyisakan trauma, terlebih lagi pada perempuan. Cepat atau tidaknya proses penyembuhan tentu tergantung pada pribadi orang itu sendiri. Dan sebaiknya memang tidak terlalu berlarut-larut dalam satu trauma supaya kita bisa terus melanjutkan hidup,” ujar Ayoe Sutomo, M. Psi., dalam sebuah acara di daerah Panglima Polim.
The show must go on, Fimelova. Yesterday is history, tomorrow is mystery! Live your life to the fullest . Bersyukurlah bahwa kamu pernah melewati masa-masa pahit dalam kehidupanmu karena pengalaman itulah yang akan selalu menjadi pengingatmu untuk menjalani hidup lebih baik lagi. Stay positive!
...
Sabtu, 01 November 2014
Sosok seorang ibu
02.45
No comments
Sosok seorang ibu
Sosok seorang ibu memang sangat melekat dalam kehidupan kita, sehingga sudah sepantasnya kita membahagiakan ibuk kita selama ibu kita masih ada, sekecil apapun kita berusaha mencoba membahagiakan sosok seorang ibu , pasti akan membuat ibu kita merasa bahagia, karena perhatian seorang anak akan sangat di harapkan oleh seorang ibu walaupun tak pernah terucap dari bibirnya.
Nah berikut adalah cerita sedih mengharukan sosok seorang ibu , semoga bisa menjadi inspirasi untuk kita semua dan uga menghibur sebagai bacaan anda semua, selamat membaca cerita sedih tentang ibu berikut :
Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 70 tahun, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di rumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut. Ayah dari anak tersebut minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Di samping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahankannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya.
Selain aib yang harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemohan, karena telahelahirkan seorang bayi haram tanpa bapa. Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love - Kasih.
Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan di waktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan penghasilan tambahan yang ia bisa dapatkan. Terkadang ia harus menjahit sampai jam 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restaurant. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yang tercinta. Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya, di samping itu ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.
Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yang seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yang tercinta, hanya yang terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian sampai dengan makanan.
Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca di luaran sangat dingin sekali, karena pada saat itu lagi musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yang telah dikumpulkannya belum mencukupinya. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca diluaran dingin sekali, bahkan dlm keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja. Sejak saat tersebut ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yang terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dlm keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yang tercinta.
Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya diluar kota. Di sana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yang bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restaurant. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.
Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidaklah diinginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak saat itu bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu. Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dengan menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya.
Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana. Di rumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai babu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa ia permohonannya telah dikabulkan.
Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali dibentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.
Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya dirumah tersebut, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo.
Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya. Uang pension yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.
Pada tahun lampau beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Di samping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.
Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat di bawah nol dan salujupun turun dengan lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat ini tidak mau keluar rumah lagi, karena di luaran sangat dingin, tetapi Nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya. Ia ingin betemu dengan putrinya sekali lagi yang terakhir kali. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus berjam-jam di luaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat di mana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang berada dlm keadaan sakit.
Setiba di rumah putrinya dlm keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yang membukakan pintu rumah gedong di mana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya ? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegor: "Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!"
"Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena di luaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!" kata wanita tua itu.
"Maaf saya tidak ada waktu, di samping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!" ucapan putrinya dengan nada kesal. Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis.
Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih, belas kasihanpun tidak ada. Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya "Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon ke kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!"
Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.
Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga. Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dlm setahun. Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari-hari tertentu. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja "Mother's Day" sedangkan di hari-hari lainnya tidak pernah mengingatnya, boro-boro memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu.
Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah. Renungkanlah: Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu? Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan-jalan? Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?
Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi










